header image

The end of a beginning…

Posted by: perantauzaman | October 12, 2008 | No Comment |

 Alhamdulillah…home sweet home…I left Perkampungan Orang asli Kuala Boh, Cameron Highlands at 5.00 pm, and arrived at my house in Pekan at 11.00 pm…it was raining all the way.

My team and I managed to finalise the final arrangements and preparations for our programme next weekend. Ibu Noor, the owner of Sri Pahang Rest House entertained us with delicious nasi lemak and lemang for breakfast. A brief meeting was held after breakfast and Cik Hamimah, the KEMAS Supervisor for Cameron Highlands, who happened to be Ibu Noor’s eldest daughter was also present.

We left Sri Pahang Rest House at 2.10 pm,  heading to  Perkampungan Orang Asli Kuala Boh using the muddy Bertam Valley - Pos Menson route. The distance between the former and the latter is about 13 km, but  the journey took about an hour due to the bad condition of the road. I salute my driver Nazri for his driving skill! Even my clerk Darolhisham who worked in construction business and often travelled off-road prior joining the University said the ride today was his most challenging off-road experience so far!

We met Tok Batin Nordin, the headman of Orang Asli settlement in Kuala Boh to update him about our programme….and before we left the village, we visited Cikgu Jeffry who was a retired teacher at  his house. Two of his daughters work as KEMAS teachers, and Ibu Noor had asked us to meet Cikgu Jeffry and his two daughters and asked for their assistance. Alhamdulillah, we didn’t face any problem so far…

May Allah Taala hear our prayers…

under: Uncategorized

Call of duty…

Posted by: perantauzaman | October 11, 2008 | 1 Comment |
Though still on leave, i’m obliged when the call of duty comes. I just arrived in Cameron Highlands at 5.30 this evening. I share the exhaustion with my driver Nazri, my clerk Darolhisham and my student, Fairul, the President of Insmartive Club. I was made adviser for a community service project with the Orang Asli community of Cameron Highlands, organised by Insmartive Club next weekend. The students came to see me and asked me for my assistance. We’ll be meeting the representatives of KEMAS and JHEOA tomorrow morning to finalise the arrangement and preparation for the programme.
Having served the University for almost 4 years, student development remains as my major interest. I’m grateful to be posted in the Student & Alumni Affairs Department on the early days of my service and I totally enjoyed the job.
When one is hired to work for the University, whether he likes it or not, serving the students’ needs will always be the top priority, whatever his position or designation, be it gardener or Vice Chancellor. If one wanted to join the University just for the sake of money (…or crony!), that would be the beginning of a disaster!
Our students need members of staff who’re committed to guide and counsel them. Those who would facilitate, not complicate. Our students need to be guided and grooomed as future leaders, and thus the staff should serve them profesionally and treat the students as adults. Many are still confused between dictating and guiding. Some of us thought that we’ve done enough to guide the students, but in reality we’re dictating them! In the “Myth of a University”, Guy Fitch Little explains that a university should be the cradle where future leaders are generated. Ask yourself, have we done enough?
So, facilitate, don’t complicate…as for me, the students will always be in my heart. Dear students, you’re just like my own brothers and sisters! ;-)
under: Uncategorized

My kind hosts…

Posted by: perantauzaman | October 10, 2008 | No Comment |
At last…here I am in the world of blogs.
Still on my Eidul Fitri leave…i’ll be working back on October 13th…the longest leave I ever take so far.
For the past 7 days, I spent my leave visiting various places in Perak, Penang, Kedah, Kelantan and Terengganu…a practice that I started since last year’s Eidul Fitri.
I’m grateful that Allah Taala granted me the strength and courage to finish the 7-day trip of 1,700 kilometres from October 3rd to October 9th, driving my Kenari alone…an experience that I’ll never forget.
I’m much indebted to the kindness of my hosts throughout the trip…my ex-student, Shamir Adnan in Bukit Mertajam on October 3rd and 4th; from October 5th and 6th in Sungai Petani with my colleagues Zulhelmey (Law lecturer at UiTM Kedah) and Syaharsani (Advocate & Solicitor in Butterworth), both were my roommates in UIAM and Syaharsani’s wife, Jamiza (J-QAF teacher in Penang), who was also my coursemate in UIAM.
I spent the final days of my trip with my keluarga angkat at Villa Rahmat, Pasir Mas from October 6th to 8th.
The final night was spent in Kuala Terengganu, a plan which was not originally on the itinerary…but thanks to Muhammad A Zamani, my coursemate in UIAM and my roommate in UIAM’s Matriculation Centre in Petaling Jaya wayback in 1999 for the splendid dinner on October 8th…a mini reunion actually, the last time we met was during our convocation day on August 2004.
One thing for sure…you’re not losing anything by being kind and friendly to other people, be it older or younger than you. A friend in need is a friend indeed. I’m grateful that Allah Taala has blessed my life with these good and kind people as my friends and companions.
People might say that I had wasted few hundred dollars ‘unnecessarily’ for this trip. I don’t mind. For me, life is not all about money. I always believe that apabila kita tidak berkira sangat tentang harta dan wang ringgit untuk kepentingan peribadi, Allah Taala juga tidak akan berkira melimpahkan rezeki-Nya pada kita. Think about it…

 

 

under: Uncategorized

Masihkah Musim Punya Simpati?

Posted by: perantauzaman | May 26, 2008 | 2 Comments |

Masihkah musim punya simpati?

Dalam sayup rembang hari

Bersama lemah bayu samudera biru

Sebuah pulau terdampar sendiri

Mengharap ziarah pelayar payar usang

Menumpangkan jejak di putih bebutir pasir.

Lena pulau itu segar dalam belaian

Sang ombak tak jemu dengan belai gemalai

Menziarahi jajar pasir di landai pantai…

Saat jingga ufuk

Camar pula bertamu di celah dinding batu

Penunggu setia memelihara lena pulau itu

…agar terus tenang dalam peraduannya.

Namun kadangkala lena pulau itu terusik juga

Saat wajah musim beralih ganti

Sang ombak hilang mesranya

Bayu menghembus kasar

Camar enggan bertamu

Si pelayar tak sudi berlabuh.

Hampir tak terlawan gelombang arus

Setiap kali menerjah peralihan musim

Pulau itu sekadar ingin lena tenang di tengah biru samudera

…mengharap belas alam dan musim

yang makin celaru oleh gelojoh umat si pelayar di sayup pantai sana…

Dalam samar masih terdengar nyanyian sunyi sang camar

Dalam keliru musim terlihat robek butir pasir ditelan ombak

Dalam jingga ufuk senjakala

Pulau itu cuba untuk lena

…tanpa mesra ombak

…tanpa lembut bayu

…tanpa ziarah si pelayar

Merenung kosong samudera

Mencongak rentak

…masihkah musim punya simpati?

Pekan

27 Mei 2008

4.05 pagi

under: Uncategorized

Gelita Gua Kehidupan

Posted by: perantauzaman | May 22, 2008 | 1 Comment |

Gelita Gua Kehidupan

Merangkak diri ini kini

Di sebalik tabir waktu

Sendirian terlonta

Di celah liku gelita

Gua kehidupan.

Langit di luar sana

Seringkali berubah warna

Adakala suram…

Adakala pudar…

Kadangkala bertingkah pula

Adakala cerah…

Adakala ceria…

Namun murka atau suka warnanya

Tak tertumpah mengisi gelita gua ini.

Dalam gelita gua kehidupan

Sendiri mencari jalan keluar yang tidak pasti

Di celah dinding-dinding liku

Tak siapa membantu

Segala makhluk sekadar diam membatu

…tak upaya.

Dalam gelita gua kehidupan

Bertarunglah diri ini mencari pengertian

Dengan bekalan pengalaman silam

Dan sisa iman

Mengharap sejalur sinar cahaya

Jadi pedoman berharga…

Dalam gelita gua kehidupan

Terkeliru arah oleh helah dinding liku

Walau tampak jalannya mudah

Belum pasti benarnya arah…

Walau tersungkur luka oleh lantai gerigi

Barangkali itulah jalan keluar yang dicari.

Dalam gelita gua kehidupan

Keringat ikhtiar memercik dalam jejak rangkak

Tiada lagi masa berbaki

Namun jangan pula sekadar menanti

Kerana bisa perangkap di sana sini.

Gelita gua kehidupan

Jadi iktibar buat mereka yang mencari pengertian

Bahawa dunia tidak menjanjikan kepuasan

Bahawa dunia tidak akan sentiasa memuliakan kita

…sesaat sesat dalam gelita gua kehidupan

hakikat diri diinsafi penuh kesedaran

Nawaitu penentu arah tujuan

Merintis jalan keluar menuju keredhaan

Atau terus sesat dengan jiwa buta…

Gelita gua kehidupan

Mengingatkan bahawa kita sebenarnya tiada upaya

Sekadar megah menumpang pinjaman

…tidak pernah disyukuri.

Gelita gua kehidupan

Mengingatkan bahawa kita sebenarnya sendirian

Kala sukar sekaliannya menyepi menghilangkan diri

Mengertilah diri membedakan kaca dan permata.

Diri ini kelam sebentar dalam gelita gua

Pastinya ada jalan keluar

Diri ini pada pandangan-Nya

Hidup ini perjuangan…

Dalam benderang atau gelita

Itulah likunya.

Maha Besar Ilahi

Ku yakini

Dengan kasih-Mu tiada ujian yang tak terlepasi

La yukallifullahu nafsan illa wus’aha…

Dalam gelita gua kehidupan

Doaku berselang bersama sisa titik keringat ikhtiar…

Pekan

23 Mei 2008

4.30 pagi

under: Uncategorized

Resah Semalam

Telah sedekad berlalu

Tatkala mata penaku melakar ekspresi

…di penghujung malam.

Kala itu aku sendiri

Dengan celaru keliru jiwa minda

Mencari ruang selesa

Meredakan perasaan membara.

Mulai saat itu tak henti mata penaku menari

Hingga wajah tiap detik waktu tak ku tinggalkan

Mencoretkan warna dan jiwa hari

Jadi saksi memori di kemudian hari.

Ku lewati tiap saat

Ku kewati tiap minit

Ku lewati tiap jam

Ku lewati tiap hari

Ku lewati tiap minggu

Ku lewati tiap tahun

…nah kini telah sedekad berlalu!

Ekspresiku terlakar di sini

…malangnya tak segalak dulu

dan pudar rona semalam

memantulkan isyarat dalam kelam

…aku faham…aku mengerti

Semuanya serba tak kena kini.

Menghampiri pertengahan tahun

Terang bulan di tengah hitam langit malam

Ku perhati dengan penuh cemburu

Isi bumi yang tenang dalam dakapan malam

Sedang diri ini masih dibelenggu resah semalam.

Ku lewati seminggu penuh liku

Menambah kosa istilah dalam kamus hidupku.

Terlalu ideal aku kadangkala

Hingga selalu aku menganggap

Bahawa manusia dan dunia akan sentiasa baik mesra

…dan minggu lalu baru ku mengerti

Maksud hidup yang sebenarnya.

Rakus nafsu membutakan mata yang celik

Rakus kuasa menidakkan jiwa yang terbuka

Rakus dunia merosakkan segalanya…

Walau pahit rasa harinya

Ku hirup jua…

Walau pedih pukulannya

Ku sanggupi jua…

Ku saksikan sendiri mereka yang durjana

Ku saksikan sendiri mereka yang dusta

Ku saksikan sendiri mereka yang aniaya

…resam dunia

…hidup ibarat roda

…kali ini ku lalui hari-hari yang penuh tanda tanya.

Dulu…

Hanya dari kejauhan ku lihat

Hanya dari kejauhan ku dengar

Hanya dari kejauhan ku simpul konklusi

Hari ini…

Aku sendiri berada di medan itu

Cukuplah sekali

Cukup…cukup memenatkan

Ke manakah hilang harga diri manusiawi?

12, 13, 14, 15 dan 16 Mei 2008 kan ku ingati

Antara babak sejarah yang paling ku hargai

Angkara manusiawi hampir aku tersungkur di sisi hari

Ramai hanya memandang sepi

Sedikit cuma mencurah simpati

Kepada-Mu Ilahi ku syukuri

Kini aku upaya menilai sendiri

Hati ikhlas dan hati mati

Mereka yang niatnya suci

Dan mereka yang menyembah kepentingan sendiri

…aku terselamat…kerana aku percaya pada bantuan-Mu!

Kan ku terus insafi

Bahawa sedikit benar yang sudi merendahkan diri

Menghayati iktibar dari getir resah semalam

Dan lihatlah nanti

…babak 12, 13, 14 15 dan 16 Mei 2008 akan berulang kembali

…ramai yang mengaku takutkan-Mu Ya Allah!

…tetapi ramai jua yang lebih takutkan manusia!

…ramai yang mengaku bahawa rezeki datang dari-Mu Ya Allah!

…tetapi ramai jua yang mengharap habuan dunia dari manusia biasa!

Dan kini aku lebih lebih mengerti

Bahawa kepentingan peribadi

Membutakan celik mata insani

Daripada mengingati sejarah hakiki.

Aku puas kini

Mata penaku masih tak canggung rentak tarinya

Mencurah ekspresi resah semalam

Di laman ini.

Pekan

19 Mei 2008

2.43 pagi.

under: Uncategorized

Sekali air bah, sekali pasir berubah…

Posted by: perantauzaman | April 24, 2008 | No Comment |

15 April 2008…Profesor Dr. Sabaruddin bin Mohd., Timbalan Naib Canselor (Akademik & Antarabangsa) UMP dilantik oleh Menteri Pengajian Tinggi sebagai Pemangku Naib Canselor UMP.

Dalam sejarah perkhidmatan aku di KUKTEM/UMP, ini adalah kali ketiga aku menyaksikan peralihan kuasa. Disember 2004, peralihan kuasa Prof. Dato’ Dr.Abu Azam bin Md Yassin kepada Prof. Dato’ Dr. Mortaza bin Mohamed; kemudian Januari 2004 daripada Prof. Dato’ Dr. Mortaza bin Mohamed yang memangku jawatan Rektor KUKTEM kepada Prof. Dato’ Dr. Mohamed Said bin Mat Lela, dan seminggu lepas Prof. Dr. Sabaruddin bin Mohd. mengambil alih amanah ini.

Sebagai penjawat awam, aku dilatih dan telah di’mindset’ untuk taat kepada perintah dan patuh kepada arahan ketua. Itu kunci utama profesionalisme penjawat awam yang perlu sentiasa neutral dan bertindak without fear or favour. I’m serving the government of the day and the University, not a particular individual.

Dalam hidup ini segala amalan kita adalah bersandarkan kepada niat. Hadith Nabi SAW: Segala amalan adalah bergantung kepada niat. Mereka yang jelas niatnya bekerja kerana Allah Taala dan menganggap pekerjaannya sebagai ibadah akan sentiasa tenang walaupun berlaku pertukaran ketua atau pegawai atasan kerana yang diharapkan ialah keredhaan Allah Taala, bukannya keredhaan manusia. Yang memberi rezeki ialah Allah Taala. Yang penting, laksanakan tugas dengan penuh amanah, komitmen dan dedikasi. Pedulikan tanggapan dan persepesi orang lain…yang penting ikhlas niat hanya pada Maha Pencipta.

Dah masuk empat tahun aku berkhidmat sebagai penjawat awam, dan aku bersyukur kerana telah dapat mengambil iktibar dan teladan daripada pelbagai peristiwa yang mewarnai proses peralihan kuasa pentadbiran di Universiti ini. Yang kaki bodek akan mencari peluang mengampu bos baru, yang kaki komplen akan mencari peluang menjatuhkan kumpulan itu dan ini. Mohon dijauhkan dari golongan-golongan seumpama ini. Mereka nampak yang memberi rezeki, pangkat dan kedudukan itu bos, bukannya Allah Taala…nauzubillah. Kerja tak setara mana, mulut lebih banyak berkata-kata kosong dan mencari kesalahan orang.

Itulah drama di pentas dunia. Sentiasa betulkan dan betulkan niat. Apa usaha dab kerja sekalipun, lillahitaala.

under: Uncategorized

Teman datang dan pergi…

Posted by: perantauzaman | December 31, 2007 | 3 Comments |

This is my first post…sebelum ni aku takdela minat berblog dan menjenguk blog orang lain…

Tapi kini aku kena terima satu hakikat…sometimes we have to share dengan orang lain…ramai orang nampak aku ceria, suka buat lawak, easy-going etc…tapi semua tu aku lakukan untuk dapatkan ketenangan…

Pendam? Haha memang aku suka pendam perasaan sorang-sorang…orang kata aku nampak serius, so mesti suka marah-marah luah perasaan…hehe tidak sama sekali…bertan-tan rasa tak puas hati, menyampah dan yang sewaktu dengannya aku pendam sendiri…

Dua tiga minggu ni aku memang tension semacam…tak tau la kenapa…mungkin pasal kawan, mungkin pasal teman…ntahla, aku cuma harap (sejak kecil lagi) orang appreciate apa yang aku buat walaupun nampak kecil atau remeh…

So kalau diterjemahkan dalam persahabatan…show some appreciation to your friends…aku dah serik dalam hidup ni dengan persahabatan yang bersifat ‘bermusim’…

Apa-apa pun…teman datang dan pergi kan…yang penting life goes on…

under: Uncategorized

Categories